Saat memonitor aplikasi yang berjalan di Elastic Compute Service (ECS), banyak developer biasanya hanya fokus pada CPU dan RAM. Kedua metric ini memang penting, tetapi sebenarnya belum cukup untuk memberikan gambaran kondisi aplikasi secara menyeluruh.

Dalam banyak kasus, aplikasi bisa terlihat normal dari sisi CPU dan memori, tetapi tetap mengalami performa yang buruk. Karena itu, developer perlu memahami metric lain yang juga berpengaruh terhadap stabilitas aplikasi.

Response Time Aplikasi

Response time menunjukkan seberapa cepat aplikasi merespons request pengguna. Metric ini sering menjadi indikator pertama ketika aplikasi mulai mengalami penurunan performa.

Aplikasi bisa saja memiliki penggunaan CPU yang rendah, tetapi response time tetap tinggi karena adanya bottleneck pada proses tertentu seperti query database atau komunikasi antar service.

Monitoring response time membantu developer mendeteksi masalah performa dari sisi pengalaman pengguna.

Error Rate Aplikasi

Error rate menunjukkan seberapa sering aplikasi menghasilkan error saat menangani request. Peningkatan error rate biasanya menjadi tanda awal adanya masalah pada sistem.

Monitoring error rate membantu developer mengetahui apakah update aplikasi atau perubahan konfigurasi berdampak pada stabilitas sistem.

Database Performance

Dalam banyak aplikasi .NET, database menjadi salah satu komponen paling penting. Monitoring performa database seperti waktu eksekusi query atau jumlah koneksi aktif dapat membantu developer mendeteksi bottleneck yang sering tidak terlihat dari sisi aplikasi.

Masalah database sering menjadi penyebab utama aplikasi terasa lambat meskipun server aplikasi masih memiliki resource yang cukup.

Network Latency

Aplikasi cloud biasanya berkomunikasi dengan berbagai layanan lain, seperti database, API eksternal, atau storage service. Network latency dapat mempengaruhi kecepatan komunikasi antar layanan tersebut.

Latency yang meningkat sering menyebabkan aplikasi terlihat lambat meskipun penggunaan CPU dan RAM masih normal.

Throughput dan Request Volume

Monitoring jumlah request yang diterima aplikasi membantu developer memahami pola penggunaan sistem. Metric ini biasanya digunakan untuk memprediksi kebutuhan scaling aplikasi.

Dengan memahami throughput, developer dapat menentukan kapan aplikasi membutuhkan resource tambahan sebelum performa mulai menurun.

Disk I/O dan Storage Performance

Operasi baca tulis disk juga dapat mempengaruhi performa aplikasi, terutama untuk aplikasi yang banyak menggunakan logging, file upload, atau proses batch data.

Monitoring Disk I/O membantu developer mengetahui apakah storage menjadi bottleneck dalam sistem.

Kesimpulan

CPU dan RAM memang merupakan metric dasar dalam monitoring aplikasi, tetapi belum cukup untuk menggambarkan kondisi sistem secara menyeluruh. Dengan memonitor response time, error rate, performa database, network latency, throughput, dan disk I/O, developer dapat memahami performa aplikasi dengan lebih baik.

Pendekatan monitoring yang lebih lengkap membantu developer mendeteksi masalah lebih cepat dan menjaga stabilitas aplikasi production.